Tondano Culinary Festival Sukses Digelar Alumni Smanto 170.1

Meimonews.com – Perkumpulan Alumni Smanto 170.1 (berdiri pada 13 Oktober 2022) yang dipimpin Irjen Pol. (Purn) Drs. Carlo Bric Tewu sukses menggelar Tondano Culinary Festival pada 5 November 2022 di Lapangan Sam Ratulangi Tondano.

“Tondano Culinary Festival ini diadakan sekaligus untuk memeriahkan HUT ke-594 Minahasa, HUT ke-63 SMA Negeri 1 Tondano dan HUT ke-3 Perkumpulan Alumni Smanto 170.1, yang ditandai dengan peniupan lilin bersama,” ujar Bert Toar Polii, salah satu Pengurus Perkumpulan Alumni Smanto (SMA Negeri 1 Tondano) 170.1 kepada Meimonews.com via WA, Jumat (11/11/2022).

Selain acara puncak, sebutnya,.pihaknya juga menggelar berbagai kegiatan tambahan, seperti Fun Run dengan partisipasi Minahasa Runner, siswa SMA Negeri 1 Tondano dan para alumni sekolah ini; Zumba dan lion dance dari alumni dan komunitas lion dance Tondano;  Ice carving demo dengan mengangkat suminsim, hewan endemik danau Tondano sebagai maskot TCF 2022; Fruits/vegetables carving demo dengan tema budaya Minahasa; dan Cooking demo dari Indonesian Chef Assosiation target audience 100 orang masyarakat pengunjung dengan tema makanan western grill dan canapé.

Acara utama diawali dengan Culinary workshop di mana  narasumber berasal dari para akademisi pemerhati kuliner dan praktisi kuliner dari para chef hotel berbintang di Sulut. Kemudian ada Audience UMKM dan pengelola usaha kuliner di Tondano dan sekitarnya.

Acara puncaknya adalah Kompetisi masak dengan 3 kategori yakni student dari sekolah SMK tata boga se-Sulut; Junior chef peserta dari perorangan, alumni dan resto/cafe se-Sulut; dan Professional class (black box) peserta dari hotel bintang 5 di Sulut.

Para pemenang pelajar (pemenang pertama hingga ketiga) adalah Aldeis Sagindole (SMKN 1 Airmadidi),  Intan Naderayan (SMKN 1 Airmadidi) dan Friedrich Saputra (Unima). Junior chef pemenangnya adalah Rachmat Mopangga (Sentra Medika Hospital), Gerianto Pangayang (Novotel Hotel) dan Alfrit Paramulia (Ibis Hotel). Black Box pemenang pertama hingga keempat  adalah Team A Team B, Team D, dan Team C.

Sesuatu yang patut dicontoh adalah kerja bakti dari para alumni Smanto 170 untuk pembersihan lapangan Sam Ratulangi sesudah iven terutama karena saat pelaksanaan event hujan turun.

Santo Presiden dari Indonesia Chef Association mengapresiasi acara ini dan berharap kuliner Minahasa semakin eksis dan mendunia.

Tondano Culinary Festival ini digelar Perkumpulan Alumni Smanto 170.1 bekerjasama dengan Indonesia Chef Association (ICA) dan disponsori BRI, Pegadaian, BTN,  PLN Suluttenggo dan Pelindo Mandiri. (Fer)

Mari Gali Potensi Wisata Danau Tondano dan Sekitarnya

              (Oleh : Bert Toar Polii)

Meimonews.com – Kota Tondano sebagai ibukota Kabupaten Minahasa termasuk salah satu kota yang langka di dunia ini tanpa disadari. Sebagai kota di tepi Danau terhitung sangat jarang ada di dunia ino, apalagi dikelilingi oleh pegunungan.

Memang ada beberapa di Amerika Serikat, sebut saja ada Michigan dan New Hampshire. Di China ada Danau Barat di Hangzhou, Danau Baikal di Kota Irkutsk Russia dan lain-lain. Tapi tidak banyak, paling sekitar 20-an.

Belum lagi danau yang ada pulau di tengahnya. Selain pulau Samosir di Danau Toba ada Pulau Bled di Danau Bled di Slovenia yang sudah menjadi daerah kunjungan wisata terkenal.
Kondisi Danau Bled hampir mirip dengan Danau Tondano. Danau ini terletak di antara Pegunungan Alpen dan juga Lautan Mediterania. Warna hijau zamrud dari danau ditambah adanya Pulau Bled di tengah-tengahnya akan jadi pemandangan utama ketika berada di sini.

Pemandangan danau Bled ini juga bisa dinikmati dari kastil yang dibangun di pegunungan sekitarnya.

Ini semua bisa dibuat di danau Tondano. Malah lebih keren lagi karena sudah tersedia jalan untuk mengelilingi Danau Tondano tanpa membosankan karena akan melewati banyak kampung yang juga sekalian bisa dijadikan kampung wisata.

Tentu saja yang pertama perlu konsentrasi adalah penanganan enceng gondok agar tuntas. Apa yang dibuat sekarang sepertinya tidak menyelesaikan masalah hanya menunda saja dan anggaran habis percuma.

Setelah enceng gondok terselesaikan maka pemanfaatan danau kemudian diatur sebaik mungkin. Jika memang karamba mau dipertahankan maka perlu diatur hanya daerah tertentu serta penerapan aspek lingkungan hidup yang ketat.

Lebih baik di atas karamba dibuat restoran terapung, pemancingan dan lain-lain tapi tertata rapih dan tidak merusak lingkungan danau.
Ikan-ikan khas Danau Tondano seperti nike, payangka, mujair dan lain-lain kembali disebar dan hanya nelayan dengan perahu bolotu dan menggunakan alat tangkap yang sudah diijinkan saja yang boleh menangkap ikan di Danau.
Namun agar nelayan dari Tondano bisa ikut maka sungai Tondano atau ‘teberan” perlu diperdalam lagi selain menghancurkan enceng gondok.

Ini juga nantinya akan menjadi alternatif transportasi di kota Tondano. Di tengah danau Tondano ada Pulau Likri yang mungkin perlu diperluas sedikit dengan cara reklamasi. Di pulau ini bisa dibangun Gereja Oikumene dan kegiatan terkait atau dibangun  replica bahtera Nabi Nuh.

Lingkungan di sekitar Danau Tondano bisa dibilang berhawa sejuk, karena berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan karena pasokan hawa dingin yang berasal dari pegunungan yang mengelilinginya, yaitu Gunung Masarang, Gunung Kaweng, pegunungan Lembean, dan Bukit Tampusu.
Di pegunungan ini telah banyak dibangun objek wisata, tempat menginap dengan view Danau Tondano.

Masih banyak yang bisa dibangun di sini seperti bukit doa, Kapel atau gereja yang unik. Apalagi kemudian di sampingnya ada kelenteng, masjid, pura , sinagoge. Bisa juga miniature Jerusalem dibuat disini.

Bisa juga  dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang.

Selanjutnya, mari benahi Kota Tondano. Selama ini banyak yang menyebut Tondano itu kota mati dari dulu begitu-begitu saja.

Penulis justru melihat ini sebagai “Blessing in Disguise”. Kenapa? Justru keterbelakangan Tondano membuat kitab Isa menjadikan Tondano sebagai Kota Tua seperti Old Delhi yang kebetulan penulis sempat ke sana.

Tapi bisa juga tidak se ekstrim itu langsung menjadikan kota tua tapi bisa meniru cara China yang sempat penulis lihat di Wuyi. Pemerintah memilih satu kompleks dan menetapkan sebagai kampung wisata. Terpilihnya kompleks tersebut karena masih banyak rumah-rumah tua yang ada. Selanjutnya pemilik tidak bisa merubah tempatnya membiarkan seperti jaman dulu dan tentu saja pemerintah memberikan subsidi.

Ketika ke sana memang penulis melihat kehidupan jaman dulu seperti yang sering dilihat di film-film silat China.

Selanjutnya karena kondisi lalulintas belum sekusut di kota besar lainnya maka Tondano dengan jalan-jalan yang datar, udara yang sejuk bisa dijadikan kota sepeda.

Ini juga akan membuat masyarakat lebih sehat dan tidak malas. Jalan-jalan tertentu hanya boleh dilewati sepeda dan bendi ataupun kalau boleh motor hanya motor listrik.

Menjadikan kota sepeda bukan pekerjaan sulit karena rasanya ada pabrik sepeda yang bersedia menjadi sponsor. Dengan aplikasi maka peminjaman dan pengembalian sepeda menjadi mudah. Pemerintah tinggal menyediakan tempat peminjaman sepeda sekaligus tempat pengembalian.

Jika ini bisa terlaksana maka menjadikan Tondano sebagai Kota Hijau jadi lebih mudah. Tahun lalu Alumni Smanto 170.1 Tondano dan WAG Tondano Kinatouanku telah merintisnya dengan menanam tanaman hias tabebuia dan lomba menghias pekarangan rumah.

Kalau ini semua sukses maka pasar bawah Tondano bisa dibangun “fishmart’ di mana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayur-sayuran.

Kemudian, ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya. Pembeli tidak bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak pedas dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari danau tapi bisa ditambah dengan ikan laut dan lain-lain.

Selanjutnya, tinggal memilih jalan untuk dijadikan seperti “night market” di Taiwan yang terkenal termasuk di beberapa kota besar Asia dan dunia.